Cerai bukan akhir dari kisah hidupmu



Tulisanku kali ini mau membahas mengenai sudut pandangku sebagai perempuan yang telah bercerai (lebih tepatnya diceraikan sih hehe) dan seorang ibu tunggal. Karena banyak dari mereka yang menyamaratakan status janda. Padahal mereka tidak tahu bagaimana perasaan kami, para ibu tunggal, yang sebenarnya.

Siapa sih yang tidak menginginkan punya rumah tangga harmonis, suami yang baik, anak-anak yang lucu? Aku pernah memilikinya, pernah merasakan hidup seperti dambaan banyak orang. Tapi ternyata Allah memiliki rencana lain yang membuat semua itu harus berakhir dengan perpisahan seperti ini. Menyalahkan jalan yang Allah berikan? Tidak. Sama sekali tidak.

"Kenapa sih Des bisa cerai?"
"Ya ampun gw nggak percaya, kalian kan harmonis banget."
"Kok nggak dipertahanin sih pernikahan kalian?"
"Lo nggak mikirin Fathi? Kan dia masih kecil."
"Keputusan lo udah tepat cerai sama dia? Nanti nyesel nggak?"

Ya itulah beberapa pertanyaan standar yang sering terlontar dari orang-orang yang tahu statusku sekarang. Respon pertama pasti kaget. Hehe wajarlah, setiap perubahan pasti menimbulkan reaksi ini. Awalnya memang amat sangat berat, perasaan berkecamuk, emosi meledak-ledak. Tapi setelah hampir 3 tahun berlalu, aku baik-baik saja sekarang. Aku di dalam kondisi prima, stabil, dan mungkin terbaik dari kondisiku sebelumnya. Jadi jika kembali ditanyakan, keputusan bercerai saat itu adalah TEPAT! Walau kadang suka terlintas di pikiran "coba dulu aku begini" atau "mungkin kalau dulu aku tidak begitu", aku tidak menyesal kok. Aku bahagia sekarang dengan lembaran hidup yang baru ini.

Saat rumah tanggaku berada di ujung tanduk pun, aku masih berdo'a Allah menjaga keutuhan pernikahanku. Aku masih berusaha mati-matian dan mencari celah apa yang bisa aku lakukan, aku perbaiki, aku pertahankan pernikahanku. Tapi ternyata petunjukNya menuntunku ke jalan sekarang ini. Aku hanya berpikir sampai kapan aku mampu mempertahankan cinta yang sudah jelas-jelas hilang di antara kami? Jika diteruskan, apa iya akan baik-baik saja kedepannya? Aku ingin bahagia, begitu pun dia. Hanya saja jalan kami sudah berbeda arah. Daripada kami sama-sama jatuh ke jurang yang makin dalam, lebih baik kami menyelamatkan diri masing-masing.

Bukan berarti aku tidak memikirkan dampak psikologis untuk Fathi. Satu-satunya alasan dan pusat pikiranku ya dia. Dia adalah prioritasku. Aku sendiri tumbuh di keluarga yang tidak utuh, di mana aku tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang Bapak. Meski begitu aku baik-baik saja sekarang, aku yakin Fathi pun akan begitu nantinya. Bahkan aku jamin Fathi akan jauuuuuh lebih baik daripada aku, Ibunya. Suatu saat Fathi pasti akan mengerti dan menerima kenapa Ayah dan Ibu nya tidak bisa lagi hidup bersama. Kupastikan sampai kapan pun, Fathi akan selalu mendapatkan figur Ayah dan Ibu kapanpun dia butuhkan.

Lalu bagaimana dengan masalah ekonomi? Semua pasti ada rezekinya, Allah sudah menjamin. Saat aku keluar dari rumah kontrakan kami dulu, aku hanya punya Rp 150.000. Kalau dipikir, uang segitu bisa bertahan sampai kapan? Namun, aku tidak putus asa larut dalam kesedihan terus-menerus. Aku hubungi koneksi yang ada, aku minta pekerjaan pada mantan boss-ku di kantor lama dan alhamdulillah aku bisa menyambung hidup. Rezeki Allah sudah terjamin. Jangan khawatir!

Satu hal yang amat sangat kita butuhkan pasca bercerai: dukungan orang sekitar. Aku amat sangat bersyukur untuk hal ini. Keluarga dan sahabat selalu menyemangati dan mengisyaratkan kalau badai ini pasti berlalu dan aku mampu melewatinya. Bahkan setelah bergabung dengan komunitas Single Moms Indonesia aku dipertemukan dengan para ibu tunggal hebat dengan cerita yang luar biasa. Aku tidak sendiri. Aku bisa.

Pasca bercerai pada mulanya aku masih merasa amat malu dan minder. Sedih setiap ditanya "Kemana suami lo?". Dari yang cuma bisa menjawab dengan senyum hingga kini aku sudah terbuka dengan ringannya menjelaskan kalau kami sudah berpisah dan kami masih berhubungan baik. Kok bisa? Waktu yang menyembuhkan. Seiring berjalannya waktu kita pasti bisa semakin dewasa dan berkepala dingin memandang kondisi ini kok. Asal bisa memaafkan dulu, baik diri sendiri dan ke mantan suami. Mau sampai kapan dendam? Karena seumur hidup, dia lah partner hidup sebagai orang tua.

Marah, benci, dendam itu wajar. Tapi dirundung energi negatif setiap harinya juga nggak bagus. Malah bisa bikin sakit badan. Ruginya lebih banyak daripada untungnya. Yang selalu aku tanamkan ke diri sendiri: semua orang bisa salah. Jadi lepaskanlah semua itu. Hiduplah dengan damai. Dan kebahagiaan akan semakin mudah dan cepat mendatangimu. 

Cheers 💕

Komentar