Yes, I'm a Single Mom!



Ya. Itulah statusku kini.
Mungkin banyak dari teman, rekan kerja, orang-orang yang mengenalku belum menyadari ini.
Aku tidak pernah bermaksud menutupinya dari awal.
Bukan hal baik juga yang perlu digembar-gemborkan, bukan?
Jika mereka mempertanyakan, ya sekarang aku sudah lebih bisa santai menjawab dengan tersenyum, "Iya, aku sudah berpisah dengan Ayahnya Fathi." :)

Jika menengok ke dua tahun belakang, mungkin bisa dibilang banyak perubahan drastis di hidupku.
Bisa dibayangkan seperti apa aku saat itu. Lusuh, selalu gloomy, kehilangan berat badan amat banyak, mata bengkak dan kurang tidur, hingga emosi yang nggak karuan. Berbagai perasaan negatif terus berkecamuk saat itu. Terus mempertanyakan kenapa Allah memberi jalan hidup ini padaku? Malu, marah, dendam, kecewa, sedih, depresi, bingung, hilang arah, ingin mengakhiri hidup, ya semua itu ada di hati saat itu.

Siapa sih perempuan di dunia ini yang ingin menyandang Single Mom? Entah karena perceraian, ditinggal suami yang telah berpulang, atau bahkan ayah dari anak kita yang menghilang.
Aku pun tidak pernah terpikir akan berakhir seperti ini pernikahanku. Sama sekali tidak. Tapi jika ditanya saat ini, berpisah kala itu adalah keputusan tepat untukku, untuk Ayah Fathi, dan juga Fathi. Mungkin memang hidup kami masing-masing belum sempurna, tapi dengan jalan kami masing-masing ini kami meraih kebahagiaan kami sendiri. Dan itu mulai kami rasakan sedikit demi sedikit.

Hikmah. Ya, banyak pelajaran yang bisa diambil dari perpisahan ini. Betapa pentingnya mensyukuri waktu kebersamaan, hidup tidak boleh egois, dan benar memang: cinta saja tidak cukup.
Insya Allah dengan semua itu, aku bisa berdiri tegak lagi, berjalan lagi hingga nanti aku bisa berlari lagi. Semua berproses. Waktu akan mengobati dan itu pasti. Karena aku sudah rasakan sendiri.

Aku hanya berharap aku bisa menjadi Ibu yang bahagia. Karena bagaimana Ibu akan tercermin pada anaknya. Aku harus bahagia jika ingin anakku bahagia. Bagaimana caranya? Dengan ikhlas. Dengan belajar terus memaafkan. Memaafkan diriku, memaafkan Ayah Fathi, memaafkan siapapun yang pernah menyakitiku. Aku tidak mau jadi pembenci, pun tidak mau jadi pendendam. Aku ingin Fathi tumbuh menjadi laki-laki hebat yang di belakangnya ada Ibu yang kuat. Aamiin. Insya Allah.

Untuk semua perempuan yang mengalami pengalaman sama. Menangislah, selesaikan tangismu hingga sedikit terasa lega. Namun jangan lupa tersenyum sesudahnya, kumpulkan semangatmu karena anak kita membutuhkan kita untuk hidup. Dan berdo'alah, yakinlah pasti ada jalan. Allah tidak tidur. 

Komentar